Aside

Cast:
-Han Hyerin
-Oh Sehun
-Kim Jongin a.k.a Kai

Namaku Hyerin, Han Hyerin. Umurku 17 tahun dan tahun ini aku kelas 3 SMA. Aku gadis biasa yang dengan bodohnya jatuh cinta pada seorang Oh Sehun, namja populer yang di idamkan banyak yeoja di sekolahku. Dia namja yang baik dan tampan, aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan. Aku ingin seperti yeoja lain yang bisa dengan percaya diri mendekatinya, memberikan hadiah-hadiah kepadanya. Tapi tidak, aku bukan yeoja yang seperti itu, aku bukan yeoja yang punya tingkat percaya diri yang tinggi. Ya, aku tahu, bagaimana dia bisa melihatku, jika yang kulakukan hanya memperhatikan dia dari jauh? Aku ingin dia melihatku, tapi bagaimana? Aku tidak tahu. Aku benar-benar tidak tahu.
Pagi ini, aku melihat Sehun sudah duduk manis di bangkunya. Dia sedang bersenda gurau dengan teman dekatnya, Kai. Dua sejoli yang selalu membuat para yeoja terpesona. Dua namja yang diidamkan para yeoja. Aku sengaja memperlambat langkahku agar aku bisa melihat Sehun lebih lama. Namja itu… entah, aku selalu bertanya-tanya. Kenapa aku bisa jatuh cinta kepada namja itu? wae? Aku menghela nafas, berjalan menuju kelasku dan duduk di bangku yang biasa aku tempati. Di dekat jendela. Agar aku bisa melihat Sehun yang sedang berolahraga. Hhhh… sampai kapan akan terus begini? Sampai kapan aku hanya bisa melihat dia dari kejauhan? Bel berbunyi nyaring, pelajaran dimulai seperti biasa.

Aku menatap Sehun yang sedang makan bersama teman-temannya yang duduk tak jauh dariku. Apa dia tidak sadar ada sepasang mata yang sedari tadi mengawasinya? Hhh… kurasa tidak. Aku menatap nanar ramyeon di depanku. Kurasa ramyeonku sudah dingin, aku belum menyentuhnya dari tadi. Aku tidak lapar. Aku mendongak dan kembali menatap Sehun. Di sebelahnya sudah berdiri seorang yeoja berwajah cantik dengan kotak makan yang dihias manis di tangannya.
“Sehun-a, aku memasakkan ini untukmu. Aku harap kau suka.” Sayup-sayup aku mendengar suara yeoja itu.
“jinca? Gamshahamnida sudah memasakkan ini untukku. Aku akan memakannya nanti.” Jawab Sehun dengan senyum ramahnya seperti biasa. kemudian aku melihat yeoja itu pergi dengan senyum mengembang di wajahnya. Sehun… kenapa kau begitu baik kepada semua orang? Bagaimana aku bisa membencimu jika kau begitu baik? Bisakah kau membuatku membencimu sedikit saja?
Tiba-tiba mataku bertemu dengan mata Sehun. Aku gelagapan karena ketahuan memperhatikannya. Tapi dia hanya tersenyum. Hangat. Aku merasa hangat di dalam hatiku. Dia hanya tersenyum dan aku merasa sebahagia ini? wae?

The moments when i look in your eyes, are the best. Because I know, I definitely love you more than any other.
****
Kim Seonsaengnim sedang menerangkan tentang trigonometri yang tidak aku mengerti sama sekali. aku menatap bosan board yang bertuliskan rumus-rumus matematika sebelum akhirnya aku menyadari sesuatu. ini adalah jam olahraga untuk kelas Sehun. Aku cepat-cepat menoleh ke jendela. Benar saja, Sehun dan teman-temannya sedang bermain basket. Tanpa kusadari, aku tersenyum melihat Sehun yang sedang berlari-lari berusaha merebut bola dari Kai. Aku suka melihat namja itu dengan seragam olahraga dan keringat yang menetes di wajahnya.
“sshhh… Hyerin-a, kau dipanggil Kim seonsaengnim.” Jisuk, teman sebangkuku menyenggol lenganku. Aku langsung tersadar dan menoleh ke depan. Kim seonsaengnim sedang menatapku.
“Ne, saem?” aku bertanya takut-takut.
“apa yang kau lihat di luar sana? Apakah sesuatu yang sangat menarik sehingga kau bahkan tidak mendengar aku memanggilmu?” tanya Kim Seonsaengnim sadis. Aku gelagapan.
“ah, ani. Aniya seonsaengnim. Ah aku hanya… aku hanya… kurang enak badan, emh, bolehkah aku ke UKS?” tiba-tiba sebuah ide melintas di benakku.
“begitu? Hmmm… baiklah. Jangan lupa untuk meminjam catatan temanmu.” Ujar Kim Saem. Membuatku begitu lega.
“gamshahamnida, saem.” Ujarku lalu meninggalkan kelas. Terimakasih Tuhan, sudah membuatku lolos dari Kim saem dan pelajarannya. Aku memasuki UKS yang benuansa putih itu. ternyata disana ada dua yeoja yang sedang berbincang-bincang. Mereka menghentikan aktifitasnya ketika melihatku masuk. Aku tersenyum pada mereka. Dua yeoja itu membalas senyumanku lalu kembali berbincang-bincang. Aku merebahkan tubuhku di ranjang putih khas UKS. Aku berusaha menutup mataku. Lumayan bukan bisa tidur sebentar?
“ya, aku benar-benar akan menyatakan perasaanku pada Sehun. Apapun jawaban dia, aku benar-benar tidak bisa menahan perasaanku lagi.” Mataku terbuka seketika mendengar yeoja itu mengatakan Sehun. Apa yang dia katakan tadi? Apa dia akan menyatakan perasaannya pada Sehun? Aku tidak mendengar jelas.
“kau yakin? Bagaimana jika Sehun menolakmu?” sepertinya aku tidak salah dengar. Yeoja itu akan menyatakan perasaannya pada Sehun.
“ayolaaah, bisakah kau mendukungku sedikit saja, Sunhee-a?” Aku mengerjap-ngerjapkan mataku. Apa Sehun akan menerima pernyataan yeoja itu? atau menolaknya? Aku melirik ke arah dua yeoja itu. cantik. Apa Sehun akan menolak pernyataan dari yeoja secantik itu? Molla. Hatiku sakit membayangkan Sehun bersama yeoja lain. Meskipun aku tahu aku bahkan tak mungkin bisa bersama Sehun. Tapi bolehkah aku tidak merelakan dia bersama yeoja lain? Bolehkah? Aku merasa dadaku sesak, mataku panas. Aku langsung turun dari ranjang dan meninggalkan UKS. Pikiranku kacau, aku takut kalau Sehun akhirnya bersama yeoja lain. Itu membuatku sakit, apa yang harus aku lakukan? Eottohke?
Tanpa kusadari aku berjalan menuju atap. Aku memejamkan mataku, membiarkan angin menerpa wajahku. Dingin. Tapi hatiku lebih dingin. Aku membuka mata, menatap lapangan basket di depanku. Pandanganku tertuju pada seseorang. Sehun, Oh Sehun dengan senyum khasnya yang mampu membuat hati para yeoja berdebar. Dia masih disana, dengan bola berwarna oranye di tangannya.
****
Sinar matahari yang menerobos masuk lewat jendela kamarku menerpa wajahku. Dengan malas aku membuka kedua mataku. Kulihat eomma sudah berdiri di samping jendela. Kurasa dia yang membuka tirai jendela kamarku.
“sudah siang Han Hyerin.” Ujar eomma. Aku mengerjap-ngerjapkan kedua mataku.
“ayolah eomma, ini bahkan hari minggu, tidak bisakah aku tidur sebentar lagi?” ujarku yang masih setengah sadar.
“banyak hal bermanfaat yang bisa kau lakukan daripada tidur.”
“hhh… Ne, eomma.” Aku memang tidak akan pernah bisa menang dari eomma. Aku mengucek kedua mataku dan bergegas menuju kamar mandi.

Aku menatap bosan benda hitam di depanku. Tidak adakah channel yang menarik satu saja? aku berdecak, menoleh ke arah tumpukan DVD yang sudah beberapa kali ku tonton dan tentu saja aku sudah bosan. Ah, mungkin lebih baik aku membeli yang baru, sekalian jalan-jalan untuk menaikkan moodku yang begitu buruk. Aku mengambil mantelku, udara diluar begitu dingin.
Tak berapa lama aku sudah sampai di toko kaset langgananku. Memang jarak rumahku tidak begitu jauh dengan toko ini.
“annyeong ahjussi.” Sapaku pada pemilik toko kaset, kami memang sudah akrab karena begitu seringnya aku kesini.
“eoh, Hyerin! Kau mencari DVD baru?” tanya Donghook Ahjussi. Aku mengangguk. “eoh, ne, ne, sebentar ya, aku rekomendasikan beberapa film bagus.” Donghook ahjussi kemudian sibuk memilih DVD. Aku mengedarkan pandanganku, kedua mataku menangkap sosok yang tak asing bagiku. Kai… dan Sehun? Oh, how lucky! Aku tersenyum senang.
“Han Hyerin, ini beberapa film baru yang bagus.” Suara Donghook Ahjussi mengagetkanku. Aku menoleh dan mendapati Donghook Ahjussi sudah memegang beberapa DVD.
“Permisi, Ahjussi, apakah kau punya film ‘Pirates of the Caribbean?” suara seorang namja membuatku menoleh. Kai. Dan disebelahnya berdiri… Sehun! Asdfshdjkaeapsdf what a…? kurasa wajahku memanas, jantungku berdegup lebih kencang. Semoga mereka tidak mendengarnya.
“eoh? Ya, seharusnya ada di rak itu.” Donghook Ahjussi berjalan menuju salah satu rak. Kai mengekor di belakangnya. Hhhh, kenapa Sehun tidak mengikuti mereka? Aku pura-pura sibuk dengan beberapa DVD di tanganku. Aku berdo’a agar Sehun cepat pergi dari sini. Ah, aku benar-benar salah tingkah sekarang.
“apakah aku boleh melihat itu?” suara ini…. aku mencoba tenang. Aku menoleh, dan mendapati Sehun menunjuk DVD-DVD yang aku pegang.
“ah, ye… silahkan.” Jawabku sedikit bergetar, asshh.. Semoga dia tidak menyadarinya. Dia mengambil DVD itu dari tanganku. Aku merasakan sesuatu seperti sengatan ketika tangannya yang tanpa sengaja menyentuh tanganku. Oh astaga, apakah kami baru saja bersentuhan? Astaga, sentuhan pertamaku dengannya.
“Eoh, sepertinya wajahmu tidak asing. bukankah kau satu sekolah dengan kami?” tanya Kai tiba-tiba. Eh? Sejak kapan dia berdiri di situ?
“Jinca?” Aku menatap Sehun yang ternyata juga sedang menatapku. Sehun membulatkan matanya. Bahkan dia tidak ingat padaku? bukankah dia tersenyum padaku di kantin waktu itu?
“Ne, Hyerin imnida.” Aku menunduk, aku tidak sanggup berlama-lama menatap kedua matanya. Itu membuat jantungku berdegup kencang. Ah, aku tidak bisa berlama-lama disini. Wajahku sudah memanas, jantungku berdegup kencang, perasaanku bercampur antara senang, bingung dan kecewa. “ah, ahjussi. Aku pulang dulu, annyeong.” Pamitku pada Donghook ahjussi yang terlihat bingung. Aku berlari keluar toko. Sayup-sayup aku mendengar Donghook ahjussi memanggil namaku. Tapi aku tidak menghiraukannya.

When i see you, i feel weak…
****
Aku menatap dua orang itu sambil terus mengaduk-aduk jus melonku yang belum sempat aku minum. Dua orang yang sedang makan bersama tepat di depanku membuatku sebal, sekaligus sakit. Ya, dua orang itu adalah Sehun dengan yeoja yang kulihat di UKS waktu itu. jadi, yeoja itu sudah menyatakan perasaannya pada Sehun dan Sehun menerimanya? Shhh… ternyata Sehun gampangan. Biar kutebak, namja itu pasti tidak mengenali yeoja yang sekarang duduk berhadapan dengannya sebelumnya. Bukan apa-apa, tapi mengingat Sehun bahkan tidak ingat padaku membuatku yakin dengan opiniku yang satu ini, Sehun-tidak-benar-benar-mengenali-yeoja-itu. Ya, yeoja itu memang cantik, tapi apa Sehun bisa percaya begitu saja? baiklah, aku tidak berhak menghakimi Sehun. Aku hanya… errr, yah, Aku cemburu!
Oh, aku tidak tahan melihat mereka berdua. Lebih baik aku kembali ke kelas dan mencari cara melupakan Sehun. Dia sudah punya yeojachingu kan? Aku tidak boleh mengganggu hubungan orang. Lagipula aku tidak punya harapan. Huufftt, kenyataan pahit ini membuat hatiku serasa mau pecah.

What hurts the most is seeing someone you love….Love someone else.

Aku berdiri dan berjalan cepat menuju pintu kantin. Aku tidak mau berlama-lama di sini, bisa-bisa air mataku langsung tumpah. Bug! Aku jatuh tersungkur di lantai. Karena terlalu terburu-buru, aku menabrak seseorang. Kurasa semua mata di ruangan ini tertuju padaku.
“Gwenchana?” tanya seseorang, aku mendongak dan mendapati Kai sedang menatapku dengan mimik khawatir. Tangannya terulur ke arahku.
“ah ne, gwenchanayo.” aku meraih tangan Kai dan mencoba berdiri.
“ah! Kau yang kemarin bukan? Yang di toko kaset.” Kai memasang senyum lebar. Kurasa memori anak ini jauh lebih baik ketimbang Sehun. Aku hanya mengangguk. “ah siapa namamu? Haerim? Heenim?” Kai terlihat sedang mencoba mengingat-ingat. Oh, ternyata aku salah, mereka berdua sama saja.
“Hyerin.” Jawabku singkat. Kai mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Kai! Ayo kesini, makan bersama kami, ppali! Ajak juga temanmu itu!” Teriak seseorang yang aku yakin itu adalah suara Sehun. Teman? Aku? Makan bersama? makan bersama dia dan yeoja itu? dia mencoba membunuhku hah?
“eoh Kai, aku harus kembali ke kelas. Annyeong.” Aku membungkukkan badanku 90o dan berlari meninggalkan Kai. Biarlah Sehun dan Kai menganggapku aneh. Aku berbelok ke toilet saat kurasakan cairan hangat mulai membasahi pipiku. Aku menutup pintu toilet dan mulai menangis di dalamnya. Hatiku sakit. Aku merutuki diriku sendiri, kenapa tidak sejak awal aku menyatakan perasaanku pada Sehun? Jika aku menyatakkannya mungkin sekarang aku sudah bersama Sehun. bukan yeoja itu! bukan dia! Kenapa aku tidak pernah berani mengatakannya? Kenapa aku selalu bertingkah seperti pengecut? Mengawasinya dari jauh dan tidak berani mendekat, sedikitpun tidak. ya, aku memang egois. Wajar bukan? Aku hanya mencintainya terlalu dalam sampai-sampai aku sendiri pun sudah tidak bisa mengendalikan perasaanku.
Aku baru saja akan membuka pintu toilet ketika kudengar suara dua orang yeoja sedang berbincang-bincang. Sehun. Mereka sedang membicarakan namja itu. aku menempelkan telingaku ke pintu untuk memperjelas pendengaranku. Dari kedua yeoja—yang entah aku tidak tahu siapa—aku mengetahui informasi bahwa Sehun dan Yeonhee, yeoja yang tadi makan bersama Sehun, tidak berpacaran. Yeonhee memang benar-benar menyatakan perasaannya pada Sehun, tapi namja itu bilang dia tidak bisa menerimanya. Tapi, melihat ekspresi sedih Yeonhee, akhirnya Sehun bersedia Yeonhee menganggapnya sebagai namjachingunya selama satu hari. Ya Tuhan, dia memang namja berhati mulia. Entah bagaimana aku harus menggambarkan perasaanku sekarang. Aku lega mereka tidak berpacaran.
****
to be continued

YOU-part 1

Advertisements

4 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s